Suratku buat Chatarina tertanggal 22 Januari 2005


22 Januari 2005

Roh Kudus terangi akal budi tuntun menembus pekatnya misteri.

Dari segala kekeruhan yang berserak di kamar (batinku) aku bertahan atas lelah tubuh setelah seharian menuntaskan cerita. Aku tuliskan atas hasrat yang mendesak jiwa, meski aku tak tahu harus aku mulai dari mana. Namun aku hanya bisa pasrah ke mana hati ini akan mengalir dan membawaku.

Dan aku akan berusaha jujur entah pada diriku entah pada dirimu sura tini aku tuliskan. Aku harap makna dari semua ini adalah suasana yang baik di mana kasih dan cinta bersemayam di situ.

Cukup lama sudah (menurut preasaanku) kita tak sua pun juga saling sapa. Aku tak berprasangka bahwasanya kita saling sembunyi tapi aku berpikir waktu memang belum mengijinkan bagi pertemuan kita dulu. Sekali lagi aku sekedar pasrah pada irama-irama semesta, yaitu hari-hari yang selalu memberiku cerita demi cerita yang mana selalu memberiku makna dan keyakinan untuk kuhayati.

Maaf, aku banyak berbincang-bincang tentang diri dan hidupku serta hari-hariku. Aku tak lebih hanya berjalan dengan segala yang ada padaku, yang adalah rahmatNya.

Memang tak dapat dipungkiri, pada malam-malam sunyi, dari relung hati dan batin, aku mendengar sayup gema yang memanggil namamu, meski sepi dan dendang malam pedesaan yang menjawab. Pun juga tak dapat disesali pada saat-saat di mana aku merasa begitu rindu berbincang-bincang panjang lebar tentang segala sesuatu padamu, atau sekedar memandangmu dan meresapkannya dalam-dalam. Dalam waktu panjang ini aku memang merasa kehilangan kamu. Memang! Seseorang yang diam-diam telah meniupkan semangat hidupku menjadi api dan membuka mata batinku akan kemegahan dan keagungan dan kedasyatan kuasa Allah Bapa yang amat memukau itu. Kuasa dan karya dari Sang Seniman yang menciptakan pesona begitu indah tiada taranya.

Aku sebenarnya tak pantas dan berbicara terlalu hina padamu. Sebab aku merasa bahwa diriku ini tak lebih dari seonggokan sampah, tetapi berbicara terlalu muluk tentang hal yang baik, putih dan bersih. Ganjil, bukan?

Absurd! Memuakkan! Dan sangat lucu, begitu pantas ditertawakan dan dicemooh, bahkan diriku sendiri pun seringkali menertawakan diriku sendiri sambil berucap: “

“ Ris.. Ris.., mbok kamu ini ngaca!”

Saya pun sadar entah sengaja entah tidak, telah banyak kesalahan ataupun kekeliruan sikap, perbuatan ataupun perkataanku padamu, yang mungkin tumbuhkan muak, benci, kesal dan jengkel.

Seandainya kata maaf  ini ada artinya bagimu untuk seorang Indra… ingin rasanya setulus hati dari lubuk nurani yang paling dalam ini kukatakan, “Indra maafkan aku.” Sekiranya ini yang dapat aku katakan. Pun demikian setulusnya aku ingin katakan : Ndra apa yang aku katakan dulu adalah sejujurnya dari apa yang ada dalam diriku. Walaupun aku katakan itu pada saat aku kurang tahu apa itu “cinta”. Tapi aku jujur. Sebab aku pun masih belum terpelanting dari kendali kesadaran dan aku pun masih ingat apa yang aku katakan dan rasakan waktu itu.

Ndra… selama hari-hari tak sua tentu telah banyak cerita demi cerita yang merupakan  lukisan-lukisan pada kain kanvas hari-hari kita. Dan jika kamu ijinkan dan masih mau mendengarkan akan aku ceritakan tentang hari-hariku saat ini.

Saat ini aku kembali menyusuri kisah lama yang telah sekian waktu terpenggal kata “putus”.  Aku ingin kembali di samping aku masih memiliki rasa sayang, terlebih karena aku masih membutuhkan kehadiran kamu.

Maaf aku kembali bercerita tentang diri, hidup serta hari-hariku. Aku memang butuh teman bicara, dan entahlah kenapa aku katakan ini kepadamu. Padahal aku belum seutuhnya mengenalmu. Mungkin aku terlanjur percaya kepadamu. Aku kagum pada sikap kamu, aku kagum pada ketegasanmu. Entah keliru entah tidak itulah kamu dan aku terlanjur percaya kepadamu. Dan waktulah yang tahu.

Pun dari situ akan terbukalah tirai misterimu dan aku akan semakin tahu dan mengenal seorang Chatarina Indrati yang apabila aku pandangi batinku lantas berucap: “Ya Bapa betapa agung kuasaMu, betapa indah pekerjaan tanganMu. Indrati  adalah bukti keindahan daya ciptaMu.

Ndra…. Sudah lelah belum baca surat ini? Kalau belum aku lanjutkan….

Untuk masalah kita saat ini aku sendiri masih bingung. Dan aku pun tak tahu, kenapa kukatakan “putus” padamu saat itu yang menciptakan kekeruhan dan kekacauan hati.

Dan setelah aku timbang keinginan dan hasrat untuk memilikimu (menjadikan kamu pacar, kekasih, teman bicara) adalah sesuatu yang tak pantas.

Sesungguhnya segala sikap dan perkataanku selama ini tiada maksud untuk melukai kelembutan dan perasaan kamu seorang wanita. Aku memang menyadari, aku memang harus banyak belajar untuk memahami dan menghormati ketulusan seorang wanita (secara tulus adalah seorang Indrati). Ndra… aku tidak membeci kamu. Justru aku semakin sayang padamu.

Memang aku teramat kangen padamu. Namun aku tak berani melangkah lebih lanjut. Aku pikir cukuplah bagiku menyusuri anugerah Tuhan yang berupa air mata bagimu ini. Aku cukup bahagia. Aku terlalu sulit dan nekad menjalin kasih denganmu. Aku gila dan lupa diri bila memaksakan diri untuk mendapatkanmu.

Indrati yang sabar membaca tentang aku dan hidupku. Seperti itulah aku. Aku selalu bercerita entah berarti entah tidak, aku tak tahu.

Aku yakin sebenarnya banyak kesalahan dan kekeliruan sebab itu sepantasnyalah aku minta maaf kembali setulusnya. Seandainya kamu ada keinginan bercerita tentang hidupmu padaku ceritakanlah lewat surat mungkin lebih leluasa. Aku bersedia berbagi rasa. Pun jika tidak, aku pun tak apa-apa. Semoga dengan surat ini kamu bisa bertutur tentang aku, seorang Aris Budiarto.

Terima kasih semoga Tuhan memberkati.

Puisiku.

SATU TANYA

Kucari-cari kau di penjuru hatiku

Namun kau tak ada

Kuperiksa lagi tong-tong sampah

Tapi sosokmu tak jua kutemukan

Tidak juga orang lain !

Hatiku kosong mlompong

Mirip rumah yang habis digarong

Aku jadi bingung

Diam

Mikir

Lama-lama jadi kepingin nanya

Normal nggak, sich aku?

TANYA UNTUKMU

Pernah kucoba bersepeda bersama

Dalam cerita manis yang tergores

Di sepanjang jalan pulang

Jujur, kau bawa nada merah jambu

Di lembar-lembar buku harianku

Walau aku tak pernah tahu

Apakah dentangnya sama di hatiku

Karna kadang kujumpai

Kau begitu jauuuuh …

Ingin kutanya padamu

Tapi dingin matamu

Membuat lidahku kelu

Aku hanya ingin tahu

Adakah arti namaku untukmu?

KISAH CINTAKU

Hai Ndra….

Hanya sapaan basa-basi

Tapi dalam hatiku menjerit

“Aku sayang kamu”

Pulang sama-sama yach…

Seperti biasa-biasa saja

Tapi hanya untuk dekat denganmu.

Pinjem bukumu yach…

Cara lain untuk mendekati kamu

Dan supaya ada alasan untuk apel.

Akhirnya…

Kamu bilang “Kamu mengganggu aku terus !”

Dan

Aku tetap sendiri.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s