LIMBAH CAIR


LIMBAH CAIR

  1. Pengertian Limbah Cair

Limbah cair atau air buangan merupakan sisa air buang yang berasal dari rumah tangga, industri maupun tempat-tempat umum lainnya, dan pada umumnya mengandung bahan-bahan atau zat-zat yang dapat membahayakan bagi kesehatan manusia serta mengganggu lingkungan hidup. Karakteristik limbah cair bervariasi dipengaruhi oleh lokasi, jumlah penduduk, industri, tata guna lahan, muka air tanah dan tingkat pemisahan antara storm water dan sanitary water. Limbah cair dibagi kedalam 3 kategori : domestic wastewater (Limbah cair domestik) meliputi: limbah cair dari dapur, kamar mandi, laundry dan sejenisnya; sanitary wastewater meliputi: domestic wastewater, komersial, kantor, dan fasilitas sejenisnya ; dan industrial wastewater berasal dari industri (sangat bervariasi sesuai dengan jenis industrinya). Sifat-sifat air limbah industri relatif bervariasi tergantung dari bahan baku yang digunakan, pemakaian air dalam proses, dan bahan aditif yang digunakan selama proses produksi.

Air limbah rumah tangga terdiri dari 3 fraksi penting, yaitu : Tinja (faeces), berpotensi mengandung mikroba pathogen, air seni (urine), umumnya mengandung Nitrogen (N) danFosfor, serta kemungkinan kecil mikro-organisme dan grey water yang merupakan air bekascucian dapur, mesin cucidan kamar mandi. Grey water sering juga disebut dengan istilah sullage. Campuran faeces dan urine disebut sebagai excreta , sedangkan campuran excreta dengan air bilasan toilet disebut sebagai black water. Mikroba pathogen banyak terdapat pada excreta. Untuk industrial wastewater, zat-zat yang terkandung di dalamnya sangat bervariasi sesuai dengan bahan baku yang dipakai oleh masing-masing industri, antara lain: nitrogen,sulfide, amoniak, lemak garam-garam zat pewarna, mineral, logam berat, zat pelarut dan sebagainya.

Sampai awal 1900-an limbah cair dari kota (municipal wastewater) yang berasal dari pemukiman, komersial, industri dan urban runoff tidak diolah terlebih dahulu, sehingga masuk langsung ke perairan termasuk laut. Baru akhir 1940an sampai sekarang, banyak kotadi dunia membangun sistem sewer (selokan) terutama untuk mencegah meledaknya berbagai penyakit. Sewer merupakan suatu alat atau saluran yang berguna untuk mengalirkan limbah domestik dan industri serta air hujan (storm water) ke waste water treatment plant (WWTP)dan perairan. Tapi pada saat sekarang limbah industri harus diolah terpisah.

Rata-rata volume limbah domestik per kapita adalah 400 L/kapita/hari. Tidak semua komponen wastewater (limbah cair) adalah polutan (bahan pencemar), pencemaran dikatakan terjadi bila bahan terlarut maupun tersuspensi menyebabkan bahaya bagi manusia dan lingkungan.

  1. Storm Water dan Sanitary Water

Storm water merupakan air yang mengalir setelah terjadi hujan. Air ini meliputi air yang turun dari atap rumah, jalan raya dan daerah parkir. Storm water umumnya ditampung melalui storm sewer selanjutnya dibuang ke perairan sungai, danau atau laut tanpa diolah terlebih dahulu di WWTP. Selain menampung storm water, storm sewer juga menampung urban run off yaitu semua air yang mengalir di jalan raya.

Sedangkan sanitary water merupakan air yang berasal dari toilet (kamar mandi dan WC),tempat cuci baju (laundry) dan cuci piring. Sanitary water ditampung melalui sanitary sewer selanjutnya diolah ke WWTP sebelum dibuang ke perairan sebab mengandung bahan-bahan yang membahayakan kesehatan manusia. Berbeda dengan storm water, sanitary water dialirkan dulu ke tempat pengolahan, sedangkan storm water langsung dialirkan ke sungai,danau, atau laut sebab sedikit mengandung kontaminan-kontaminan yang berbahaya bagi mahluk hidup.

Combined sewer system merupakan sistem saluran air yang menggabungkan air yang berasal dari storm water dan sanitary water pada satu saluran pipa. Saluran untuk sanitary water dibuat lebih rendah sehingga air yang berasal dari sanitary water tidak ikut kelua rmelalui saluran storm water. Selain itu, kontaminan-kontaminan sanitary water seperti tinja mempunya massa yang lebih berat dari air sehingga akan jatuh atau mengalir ke saluran pengolahan limbah atau WWTP sedangkan untuk storm water akan mengalir melalui saluran yang mengarah ke perairan seperti sungai atau danau. Combined sewer system cocok untuk daerah yang mempunyai musim kering lebih lama dari musim hujan. Sebab pada musim hujan air yang berasal dari sanitary water cenderung bercampur dengan storm waterdisebabkan volum air yang besar sehingga akan ikut teralirkan melalui saluran pembuangan storm water kedalam perairan.

  1. Kontaminan dalam Limbah Cair Domestik

Limbah cair domestik mengandung kontaminan-kontaminan penting yang berbahaya bagi lingkungan laut, diantaranya suspended solid (padatan tersuspensi), bahan organik biodegradable, pathogen, nutrient, bahan persisten organik, dan logam berat. suspended solid menyebabkan penetrasi cahaya matahari ke dalam perairan berkurang, menutup habitat organisme bentik, merusak organ insang dan filter feeding, bahan organik biodegradable dapat menyebabkan penurunkan oksigen terlarut, pathogen dapat tercerna manusia karena mengkonsumsi hasil laut yang terkontaminasi, nutrient menyebabkan meledaknya populasi alga dan eutrofikasi, bahan persisten organik dan logam berat menyebabkan terjadinya bioakumulasi pestisida, PCBs, dan bioakumulasi logam berat yang berbahaya bagi manusia sebagai konsumen tertinggi sebab konsentrasi kontaminan tertinggi hasil biokumulasi akanter jadi di dalam tubuh manusia.

Dalam limbah cair yang belum diolah juga terdapat kontaminan-kontaminan khas yang terbagi kedalam padatan (padatan total, total terlarut, total tersuspensi, total volatile, BOD5, COD, alkalinitas, minyak dan lemak), nitrogen (total, organik, ammonia, nitrit, nitrat), dan fosfor (total, organik, anorganik). Limbah cair memiliki pH antara 6,5 sampai 7,5 dan indikator pathogen yang terkandung didalamnya adalah koliform yang terdapat sebanyak 108-109 per 100 ml air limbah. Pada air minum diharuskan lebih kecil dari 1/100 ml air. Untuk bahan organik yang terkandung dalam limbah cair adalah karbohidrat, protein, lemak, urea(urine), surfactant, phenol, dan pestisida. Untuk logam berat adalah Hg, Pb, Cd, dan lain-lain. Pathogen yang terkandung biasanya pathogen yang menyebabkan penyakit typhoid, paratyphoid, dysentery, diarrhea, dan cholera.

  1. Pengolahan Air Limbah (Wastewater Treatment)

Pengolahan air limbah bertujuan untuk melindungi kesehatan masyarakat, mencegah kondisi kurang baik pada badan air penerima, dan agar badan air penerima tetap layak digunakan kembali untuk pertanian dan industri. Untuk mengatur hasil pengolahan air limbah maka perlu dibuat kriteria kualitas air untuk semua badan air penerima, sehingga tingkat pengolahan air limbah dapat menyesuaikan kualitas badan air penerima. Pada pengolahan air limbah secara konvensional terdiri dari tiga proses yaitu :

  • Preliminary processes :

    Pada proses ini dilakukan pumping, screening dan grit removal. Dimulai dengan mengumpulkan dan memompa limbah yang berasal dari influent. Kemudian limbah dialirkan ke salah satu saluran dimana objek-objek besar yang mengalir bersama limbah dihambat dan diendapkan melalui proses screening. Selanjutnya limbah dipompa ke dalam grit channel. Grit channel merupakan ruangan atau saluran yang melambatkan kecepatan aliran yang menyebabkan material inorganik mengendap kebawah ruangan dan selanjutnya dilakukan perlakuan primer.

  • Primary treatment:

    Pada perlakuan primer dilakukan pemisahan fisik bahan organik tersuspensi dalam bak pengendapan untuk mengurangi kebutuhan oksigen biologis (BOD). Pengolahan pendahuluan digunakan untuk memisahkan padatan kasar, mengurangi ukuran padatan, memisahkan minyak atau lemak, dan proses menyetarakan menurut, bertujuan untuk menghilangkan zat-zat yang bisa mengendap seperti suspended solid, zat-zat yang mengapung seperti lemak, serta akan mengurangi 50-70% suspended solid, 25-40% BOD. Selain itu langkah ini merupakan pengolahan yang bisa diterima sebagai langkah pertama yang dapat diterima sebelum air limbah masuk ke pengolahan air limbah. Desain dari primary settling tank, yang pertama mempunyai surface-loading rate untuk limbah domestik sebesar 800 gal/(d)(ft2), detention time selama 90-150 min, ukuran rectangular: D= 10-15 ft, L=15-30 ft, P=80-120 ft, Ukuran Circular: D= 71-2 ft,dan diameter sebesar 40-150 ft.

  • Secondary treatment:

    Bertujuan untuk menurunkan BOD dan Suspended Solid melalui biological treatment. Cairan yang bersal dari primary treatment dialirkan ke bak biological treatment kemudian dialirkan ke tangki pengendapan terakhir (final sedimentation tank). Dari total volume endapan lumpur aktif (activated sludge) yang dihasilkan, 25%-nya akan digunakan kembali sehingga dimasukkan lagi ke dalam tangki aerasi, sedangkan yang75%-nya akan dibuang ke laut, ditimbun di rawa-rawa, atau dijadikan pupuk. Peralatan pengolahan yang umum digunakan pada pengolahan tahap ini ialah activated sludge, stabilization pond, dan menggunakan attached biological growth.

    Untuk stabilization pond terdiri dari 3 tipe yaitu, anaerobic stabilization pond, facultative stabilization pond, dan aerobik maturation stabilization pond. Pada anaerobic stabilization pond, pengolahan limbah dilakukan dalam kondisi anaerob atau tanpa oksigen, sedangkan pada facultative dan aerobic maturation stabilization pond pengolahan limbah dilakukan dengan penambahan oksigen melalui kontak dengan permukaan air. Activated sludge atau lumpur aktif merupakan proses di mana campuran limbah dengan mikroorganisme dilakukan aerasi dan pengadukan menyebabkan teroksidasinya bahan organik terlarut.

Air yang tertinggal cukup jernih sehingga dapat langsung disalurkan ke badan-badan air setelah mengalami proses desinfeksi. Desinfeksi adalah menghancurkan atau membunuh kebanyakan kebanyakan organisme patogen pada benda atau instrumen dengan menggunakan campuran zat kimia cair. Terdapat 3 tingkat desinfeksi yaitu desinfeksi tingkat tinggi yaitu membunuh semua organisme dengan perkecualian spora bakteri, desinfeksi tingkat sedang yakni membunuh bakteri kebanyakan jamur kecuali spora bakteri dan desinfeksi tingkat rendah yaitu membunuh kebanyakan bakteri beberapa virus dan beberapa jamur tetapi tidak dapat membunuh mikroorganisme yang resisten seperti basil tuberkel dan spora bakteri. Desinfeksi dapat dilakukan dengan 2 cara, yaitu klorinasi dan menggunakan ozon. Klorinasi biasanya menggunakan gas khlor, sodium and calcium hypochlorite (NaOCl danCaOCl)). Kelebihan dari klorinasi adalah waktu pembnuhan pathogen yang sangat cepat yaitu sekitar 15-30 menit dan juga meninggalkan residu toxic chlorine yang dapat membunuh pathogen secara komplet, sedangkan kekurangannya adalah dibutuhkan dechlorination effluent, dan dapat membentuk trihalomethane yang bersifat karsinogenik. Sedangkan untuk ozone merupakan agent oksidasi yang sangat kuat, lebih baik dari chlorine, tetapi sangat mahal dan tidak meninggalkan residu karena cepat terdekomposisi menjadi oksigen.

Klorinasi dapat berdampak buruk bagi lingkungan laut karena dapat bereaksi membentuk chlorinated organic compounds yang sama bahayanya dengan DDT dan PCB.Selain itu juga chlorine bereaksi dengan bromida membentuk HOBr acid dan OBr ion yangmerupakan biosida yang sangat kuat. Dengan ammonium ion (NH4-)chlorine bereaksi membentuk NH2Cl yang sangat beracun.

  1. Dampak Limbah Cair Terhadap Kesehatan Masyarakat Dan Lingkungan

Limbah cair industri pelapisan bermacam-macam, bersifat asam atau basa yang mengandung sianida beracun dan logam. Sumber limbah berupa larutan di dalam bejana itu sendiri atau air bilasan. Sumber utama air limbah adalah larutan pembilas yang agak encer, dan sering mengandung 5 mg/l – 50 mg/l ion logam beracun. Larutan dalam bejana yang berkonsentrasi tinggi jarang dibuang, akan tetapi jika dibuang, dampak racunnya terhadap air penampung limbah mungkin besar. Pembuangan lemak dengan pelarut membuat pelarut itu sendiri menjadi limbah dan limbah di air bilasan. Kebanyakan pelarut itu berbahaya terhadap lingkungan karena mengandung: silene, tetrakloro-etilena, metilen klorida, aseton, keton, dan lain-lain. Larutan alkali pembersih mengandung padatan tersuspensi, lemak, sabun, dan tingkat pH-nya tinggi. Pengasaman menghasilkan pembuangan larutan asam secara berkala, dan air bilasan dengan pH rendah. Pelapisan, perendaman, dan pencelupan dalam sianida menghasilkan larutan yang mengandung sianida dan logam yang dilapisi. Air cucian lantai sering tercemar oleh percikan, tetesan dan tumpahan larutan pembersih, larutan pengupas, dan larutan pelapis.

Limbah domestik terbagi dalam dua kategori yaitu pertama, limbah cair domestik yang berasal dari air cucian seperti sabun, deterjen, minyak dan pestisida.Kedua adalah limbah cair yang berasal dari kakus seperti sabun, shampo, tinja dan air seni. Limbah cair domestik menghasilkan senyawa organik berupa protein, karbohidrat, lemak dan asam nukleat Pada musim kemarau saat debit air Kali Mas turun hingga 300% maka masukan bahan organik kedalam badan air akan mengakibatkan penurunan kualitas air.

  • Pertama, badan air memerlukan oksigen ekstra guna mengurai ikatan dalam senyawa organik (dekomposisi), akibatnya akan membuat sungai miskin oksigen, membuat jatah oksigen bagi biota air lainnya berkurang jumlahnya. Pengurangan kadar Oksigen dalam air ini sering mengakibatkan peristiwa ikan munggut (ikan mati masal akibat kekurangan Oksigen).
  • Kedua, Limbah organik mengandung padatan terlarut yang tinggi sehingga menimbulkan kekeruhan dan mengurangi penetrasi cahaya matahari bagi biota fotosintetik.
  • Ketiga, puluhan ton padatan terlarut yang dibuang hampir lebih dari 3 juta orang di Surabaya akan mengendap dan merubah karakteristik dasar sungai, akibatnya beberapa biota yang menetap didasar sungai akan tereleminasi atau bahkan punah.
  • Keempat, bahan penimbul busa yang sebenarnya tidak diperlukan dalam proses pencucian dan tidak ada hubungan antara daya bersih dengan busa yang melimpah. Kelima, Fluorescent, berguna untuk membuat Pakaian lebih cemerlang.

Dampak limbah organik ini umumnya disebabkan oleh dua jenis limbah cair yaitu deterjen dan tinja. Deterjen sangat berbahaya bagi lingkungan karena dari beberapa kajian menyebutkan bahwa detergen memiliki kemampuan untuk melarutkan bahan bersifat karsinogen, misalnya 3,4 Benzonpyrene, selain gangguan terhadap masalah kesehatan, kandungan detergen dalam air minum akan menimbulkan bau dan rasa tidak enak. Sedangkan tinja merupakan jenis vektor pembawa berbagai macam penyakit bagi manusia.

  1. Deterjen

Deterjen umumnya tersusun atas lima jenis bahan penyusun. Pertama, surfaktan yang merupakan senyawa Alkyl Bensen Sulfonat (ABS) yang berfungsi untuk mengangkat kotoran pada pakaian. ABS memiliki sifat tahan terhadap penguraian oleh mikroorganisme (nonbiodegradable). Kedua, senyawa fosfat, (bahan pengisi) yang mencegah menempelnya kembali kotoran pada bahan yang sedang dicuci. Senyawa fosfat digunakan oleh semua merk deterjen memberikan andil yang cukup besar terhadap terjadinya proses eutrofikasi yang menyebabkan Booming Algae (meledaknya populasi tanaman air) Ketiga, Pemutih dan pewangi (bahan pembantu) zat pemutih umumnya terdiri dari zat natrium karbonat. Menurut hasil riset organisasi konsumen Malaysia (CAP) Pemutih dapat menimbulkan kanker pada manusia. sedangkan untuk penwangi lebih banyak merugikan konsumen karena bahan ini membuat makin tingginya biaya produksi, sehingga harga jual produk semakin mahal. Padahal zat pewangi tidak ada kaitannya dengan kemampuan mencuci.

 

  1. Tinja

Bagian yang paling berbahaya dari limbah domestik adalah mikroorganisme patogen yang terkandung dalam tinja, karena dapat menularkan beragam penyakit bila masuk tubuh manusia, dalam 1 gram tinja mengandung 1 milyar partikel virus infektif, yang mampu bertahan hidup selama beberapa minggu pada suhu dibawah 10 derajat Celcius. Terdapat 4 mikroorganisme patogen yang terkandung dalam tinja yaitu : virus, Protozoa, cacing dan bakteri yang umumnya diwakili oleh jenis Escherichia coli (E-coli). Menurut catatan badan Kesehatan dunia (WHO) melaporkan bahwa air limbah domestik yang belum diolah memiliki kandungan virus sebesar 100.000 partikel virus infektif setiap liternya, lebih dari 120 jenis virus patogen yang terkandung dalam air seni dan tinja. Sebagian besar virus patogen ini tidak memberikan gejala yang jelas sehingga sulit dilacak penyebabnya.

Setelah tinja memasuki badan air, E-coli akan mengkontaminasi perairan, bahkan pada kondisi tertentu E-coli dapat mengalahkan mekanisme pertahanan tubuh dan dapat tinggal di dalam pelvix ginjal dan hati.

Tingginya tingkat pencemaran domestik Kali Mas memberikan dampak yang signifikan terhadap kualitas kesehatan masyarakat yang tinggal disepanjang bantaran Kali Mas, hal ini merujuk pada data yang dikeluarkan oleh Paguyuban Kanker Anak Jawa Timur RSUD Dr Soetomo Oktober 2003 yang menyebutkan bahwa 59% penderita kanker anak adalah leukimia dan sebagian besar dari penderita kanker ini tinggal di Daerah Aliran Sungai Brantas (termasuk Kali Surabaya dan Kali Mas). Jenis Kanker lainnya yang umum diderita Anak yang tinggal di Bantaran Kali adalah kanker syaraf (neuroblastoma), Kanker kelenjar getah bening (Limfoma), kanker ginjal (tumor wilms), dan Kanker Mata.

Ancaman serius ini harus memicu peran aktif Pemerintah dalam mengendalikan pencemaran domestik, karena dibandingkan dengan Limbah cair industri, penanganan sumber limbah domestik sulit untuk dikendalikan karena sumbernya yang tersebar. Upaya yang dimaksudkan bukan penyuluhan kepada masyarakat untuk tidak membuang tinja atau deterjen kesungai, tetapi lebih kepada mengarahkan industri-industri kita untuk menerapkan cleaner production (industri yang berwawasan lingkungan) dengan menerapkan pengolahan limbah dan menghasilkan produk-produk ramah lingkungan.

Sebagai konsumen pun masyarakat pemakai detergen juga harus berani memilih dengan menggunakan produk-produk yang dihasilkan oleh industri yang telah memiliki predikat hijau, predikat hijau ini diberikan oleh Kantor kementrian Lingkungan Hidup dalam program Proper (Program Pentaatn Industri) dalam program ini diberikan predikat emas untuk industri yang menerapkan industri bersih, predikat Hijau untuk industri yang telah mengelolah limbahnya dan telah mengembangkan community development bagi masyrakat sekitar, predikat biru, Predikat Merah dan Predikat hitam bagi industri yang menimbulkan kerusakan lingkungan. Dengan memilih produk-produk dari industri berpredikat hijau berarti kita juga ikut serta dalam menjaga kualitas lingkungan.

Pencemaran lingkungan sering diungkapkan dengan pembicaraan atau pemberitaan melalui media massa. Ungkapan tersebut bermacam ragam popularisasinya dikalangan pendengar atau pembaca, antara lain pernyataan yang menyebutkan : Pencemaran udara oleh gas buang kendaraan bermotor amat terasa dikota-kota besar yang padat lalulintasnya; pencemaran sungai oleh limbah cair industri sangat mengganggu kehidupan di perairan ; limbah pulp (bubur kayu) pabrik kayu mengandung BOD dan COD yang tinggi.; sampah bahan berbahaya beracun mencemari air, dsb. Didalam bahasa sehari-hari, pencemaran lingkungan dipahami sebagai sesuatu kejadian lingkungan yang tidak diingini, menimbulkan gangguan atau kerusakan lingkungan bahkan dapat menimbulkan gangguan kesehatan sampai kematian. Hal-hal yang tidak diinginkan yang dapat disebut pencemaran, misalnya udara berbau tidak sedap, air berwarna keruh, tanah ditimbuni sampah. Hal tersebut dapat berkembang dari sekedar tidak diingini menjadi gangguan. Udara yang tercemar baik oleh debu, gas maupun unsur kimia lainnya dapat menyakitkan saluran pernafasan, mata menjadi pedas atau merah dan berair. Bila zat pencemar tersebut mengandung bahan berbahaya dan beracun (B3), kemungkinan dapat berakibat fatal. Hal yang sama dapat terjadi pada air. Air yang tercemar dapat menimbulkan gangguan gatal pada kulit, atau sakit saluran pencernaan bila terminum dan dapat berakibat lebih jauh bila ternyata mengandung B3. Demikian pula halnya dengan tanah yang tercemar, 0yang pada gilirannya dapat mengotori sumber air didekatnya.

Menurut Undang-Undang Nomor 23 Tahun 1997 tentang Pengelolaan Lingkungan Hidup, yang dimaksud dengan pencemaran lingkungan hidup adalah : masuknya atau dimasukkannya makhluk hidup, zat, energi, dan atau komponen lain ke dalam lingkungan hidup oleh kegiatan manusia sehingga kualitasnya turun sampai ke tingkat tertentu yang menyebabkan lingkungan hidup tidak dapat berfungsi sesuai dengan peruntukannya.

  1. Limbah dan masalahnya.

Karena limbah dibuang ke lingkungan, maka masalah yang ditimbulkannya merata dan menyebar di lingkungan yang luas. Limbah gas terbawa angin dari satu tempat ke tempat lainnya. Limbah cair atau padat yang dibuang ke sungai, dihanyutkan dari hulu sampai jauh ke hilir, melampaui batas-batas wilayah akhirnya bermuara dilaut atau danau, seolah-olah laut atau danau menjadi tong sampah. Limbah bermasalah antara lain berasal dari kegiatan pemukiman, industri, pertanian, pertambangan dan rekreasi. Limbah pemukiman selain berupa limbah padat yaitu sampah rumah tangga, juga berupa tinja dan limbah cair yang semuanya dapat mencemari lingkungan perairan. Air yang tercemar akan menjadi sumber penyakit menular.

Limbah industri baik berupa gas, cair maupun padat umumnya termasuk kategori atau dengan sifat limbah B3. Kegiatan industri disamping bertujuan untuk meningkatkan kesejahteraan, ternyata juga menghasilkan limbah sebagai pencemar lingkungan perairan, tanah, dan udara. Limbah cair, yang dibuang ke perairan akan mengotori air yang dipergunakan untuk berbagai keperluan dan mengganggu kehidupan biota air. Limbah padat akan mencemari tanah dan sumber air tanah. Limbah gas yang dibuang ke udara pada umumnya mengandung senyawa kimia berupa SOx, NOx, CO, dan gas-gas lain yang tidak diinginkan. Adanya SO2 dan NOx diudara dapat menyebabkan terjadinya hujan asam yang dapat menimbulkan kerugian karena merusak bangunan, ekosistem perairan, lahan pertanian dan hutan. Limbah bahan berbahaya dan beracun (B3) yang sangat ditakuti adalah limbah dari industri kimia. Limbah dari industri kima pada umumnya mengandung berbagai macam unsur logam berat yang mempunyai sifat akumulatif dan beracun (toxic) sehingga berbahaya bagi kesehatan manusia. Limbah pertanian yang paling utama ialah pestisida dan pupuk. Walau pestisida digunakan untuk membunuh hama, ternyata karena pemakaiannya yang tidak sesuai dengan peraturan keselamatan kerja, pestisida menjadi biosida – pembunuh kehidupan. Pestida yang berlebihan pemakaiannya, akhirnya mengkontaminasi sayuran dan buahbuahan yang dapat menyebabkan keracunan konsumennya. Pupuk sering dipakai berlebihan, sisanya bila sampai diperairan dapat merangsang pertumbuhan gulma penyebab timbulnya eutrofikasi. Pemakaian herbisida untuk mengatasi eutrofikasi menjadi penyebab terkontaminasinya ikan, udang dan biota air lainnya. Pertambangan memerlukan proses lanjutan pengolahan hasil tambang menjadi bahan yang diinginkan. Misalnya proses dipertambangan emas, memerlukan bahan air raksa atau mercury akan menghasilakan limbah logam berat cair penyebab keracunan syaraf dan merupakan bahan teratogenik. Kegiatan sektor pariwisata menimbulkan limbah melalui sarana transportasi, dengan limbah gas buang di udara, tumpahan minyak dan oli dilaut sebagai limbah perahu atau kapal motor dikawasan wisata bahari.

  1. Dampak Limbah Cair pada Kesehatan

Dalam paradigma Kesehatan Lingkungan ada 4 simpul yang berkaitan dengan proses pajanan limbah cair yang dapat mengganggu kesehatan.

Simpul 1 : Jenis dan skala kegiatan yang diduga menjadi sumber pencemar atau biasa disebut sebagai sumber emisi limbah. Sumber emisi limbah pada umumnya berasal dari sektor industri, transportasi, yang mengeluarkan berbagai bahan buangan yang mengandung senyawa kimia yang tidak dikehendaki. Emisi tersebut dapat berupa gas, cairan, maupun partikel yang mengandung senyawa organik maupun anorganik.

Simpul 2 : Media lingkungan (air, tanah, udara, biota)

Emisi dari simpul 1 dibuang ke lingkungan, kemudian menyebar secara luas di lingkungan sesuai dengan kondisi media transportasi limbah. Bila melalui udara, maka sebarannya tergantung dari arah angin dominan dan dapat menjangkau wilayah yang cukup luas. Bila melalui air maka dapat menyebar sesuai dengan arah aliran yang sebarannya dapat sangat jauh. Komponen lain yang ikut menyebarkan emisi tersebut adalah biota air yang ikut tercemar.

Simpul 3 : Pemajanan Limbah Cair ke manusia

Di lingkungan, manusia dapat menghirup udara yang tercemar, minum air yang tercemar, makan makanan yang terkontaminasi dan dapat pula kemasukan Limbah melalui kulit. Pada umumnya titik pemajanan B3 kedalam tubuh manusia melalui pernafasan, oral (mulut) dan kulit

Simpul 4 : Dampak Kesehatan yang timbul

Akibat kontak dengan Limbah Cair atau terpajan oleh pencemar melalui berbagai cara seperti pada simpul 3, maka dampak kesehatan yang timbul bervariasi dari ringan, sedang, sampai berat bahkan sampai menimbulkan kematian, tergantung dari dosis dan waktu pemajanan. Jenis penyakit yang ditimbulkan, pada umumnya merupakan penyakit non infeksi antara lain : Keracunan, kerusakan organ, kanker, hypertensi, asma bronchioli, pengaruh pada janin yang dapat mangakibatkan lahir cacat (cacat bawaan), kemunduran mental , gangguan pertumbuhan baik fisik maupun psikis, gangguan kecerdasan dll.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s