RANGKUMAN KETERAMPILAN BERBAHASA INDONESIA SD Modul 5


KEGIATAN BELAJAR 1

Kemampuan Dasar dalam Kegiatan Menulis

Menulis adalah suatu prosses berpikir dan menuangkan pemikiran dalam bentuk wacana (karangan). Tahapan Proses menulis adalah sebagai berikut :  diagram alum menulis       Obeservasi-observasi yang telah dilakukan terhadap penulis menunjukkan bahwa proses menulis tidak bersifat lenear dan sederhana. Dalam proses menulis, seseorang memulai dengan membuat perencanaan, kemudian menulis dan merevisinya kemudian menulis lagi merevisi lagi dan menulis lagi. Tahapan ini diulang-ulang sampai diperoleh tulisan akhir. A. Menulis Kebahasaan Dalam menuliskan kata serta kalimat, perlu memperhatikan dan mentaati konvensi dalam penggunaan huruf, tanda baca, serta konvensi tata tulis lainnya.

  1. Pemakaian Kata

Contoh :

  • Rencana pembangunan di kawasan Bandung Utara kembali dipersoalkan.
  • Rencana pembangunan di kawasan Bandung Utara kembali dipermasalahkan.

Kalimat di atas dari segi bentuk hanya dibedakan oleh sebuah kata yaitu kata dipersoalkan dan kata dipermasalahkan (merupakan kata-kata bersinonim). Kalimat (1) dan (2) di atas dari segi bentuk hanya dibedakan oleh sebuah kata. Kemudian dapat dikatakan bahwa kedua kalimat tersebut memiliki makna yang sama, atau kata-kata yang bersinonim. a) Sinonim dan Antonim Kata-kata yang bersinonim ada yang dapat saling menggantikan dalam kalimat dan ada pula yang tidak. Contoh :

  • Bangsa ini menghadapi masalah yang sulit dipecahkan.
  • Bangsa ini menghadapi masalah yang sukar dipecahkan.
  • Bangsa ini menghadapi masalah yang pelik dipecahkan.

Kata sulit dan sukar pada kalimat di atas bisa saling menggantikan, sedangkan kata pelik dalam kalimat di atas masih terasa janggal dan susah diterima. Akn bisa diterima bila kalimat di atas diganti dengan, Bangsa ini menghadapi masalah yang pelik. Dari contoh-contoh kalimat di atas, jelas bahwa perlu melakukan pemilihan kata-kata yang akan digunakan dalam suatu tulisan. Berikut ini dua kalimat menggunakan pemilihan kata-kata yang berantonim :

  • Besar kecil, tua muda, kaya miskin berbondong-bondong ke lapangan.
  • Semua orang berbondong-bondong ke lapangan.

Kesan yang yang bisa ditangkap adalah kata-kata yang berantonim lebih hidup dan dinamis. b) Denotasi dan Konotasi Contoh kalimat :

  • Sebagian besar penduduk di desa itu hidup dalam kemiskinan
  • Sebagian besar penduduk di desa itu hidup dalam kemlaratan

Kata kemiskinan dan kemlaratan memiliki makna leksikal yang sama. Makna leksikal yaitu makna kata atau leksem sebagai lambang benda, peristiwa, obyek, dan lain-lain. Makna ini dimiliki unsur bahasa lepas dari penggunaan atau konteksnya. Kata kemiskinan memiliki makna leksikal yang tidak menonjolkan nilai rasa tertentu (bersifat denotatif). Sedangkan, kata kemlaratan memiliki makna leksikal juga menonjokan kesan menyedihkan (bersifat konotatif). c) Kata umum dan Khusus Kata umum memiliki lingkup makna yang luas, sedangkan kata khusus memiliki lingkup makna yang lebih spesifik (lebih jelas). Contoh dalam kalimat :

  • Di perpustakaan kita bisa meminjam buku.
  • Di perpustakaan kita bisa meminjam novel.

Buku adalah kata umum, sedangkan novel adalah kata khusus. d) Kata Konkrit dan Kata Abstrak Kata abstrak mempunyai referent berupa konsep, sedangkan kata konkrit mempunyai referent berupa objek yang dapat diamati. Kata abstrak lebih sulit dipahami daripada kata konkret. Contoh kata-kata konkret, patung, perahu, air, pisang beras dan lain-lain. Contoh kata-kata abstrak, ibadah, musyrik, transportasi, kebendaan, keperluan, keindahan dan kejujuran. e) Kata Populer dan Kata Kajian Populer dipakai untuk merujuk kepada kata-kata yang biasa dipakai dalam komunikasi sehari-hari, sedangkan kata kajian merujuk kepada kata-kata yang dipakai dalam komunikasi ilmiah atau komunikasi profesi tertentu. Contoh kata populer, cara, arang, kecil, berarti. Contoh kata kajian, sampel, metode, karbon, mikro, signifikan f) Kata Asing dan Serapan Kata asing adalah kata-kata yang berasal dari bahasa asing yang bentuk dan pengucapannya dipertahankan seperti dalam bahasa asalnya. Kata serapan adalah kata-kata yang berasal dari bahasa asing, namun bentuk dan pengucapannya sudah disesuaikan dengan struktur dan pengucapan, dalam bahasa Indonesia. Contoh kata Serapan misalnya kata buku, kitab, koran, ilmu, hakim, dan mobil. Contoh kata asing, teknologi, transmisi, psikologi, demografi, kontribusi.

  1. Penulisan Kalimat

Penggunaan kalimat efektif dimaksudkan agar tulisan-tulisan tersebut dapat  dibaca dengan mudah. Kalimat-kalimat efektif mutlak digunakan untuk karangan- karangan yang bersifat ekspositoris dan argumentatif. Namun, tidak dapat dijadikan pegangan untuk tulisan-tulisan naratif dan puitis. a. Unsur subjek dan predikat Dalam sebuah kalimat yang efektif terdapat unsur subjek dan predikat. b. Kehematan Selain hubungan subjek dan predikat dalam kalimat harus jelas, pemakaian unsur bahasa dalam tulisann ekspositoris dan argumentatif tidak perlu berlebihan. Kalimat yang efektif harus memenuhi syarat kehematan dalam pemakaian kata. Contoh kalimat tidak efektif: Target yang ditetapkan terlalu tinggi sekali. Kalimat efektifnya adalah Target yang ditetapkan terlalu tinggi. c. Kesejajaran Syarat lain yang harus dipenuhi dalam sebuah kalimat efektif adalah kesejajaran bentuk. Perhatikan kedua kalimat di bawah ini:

  • Materi pelajaran dikembangkannya dengan baik dan menyajikannya dengan penuh kepercayaan diri.
  • Materi pelajaran dikembangkannya dengan baik dan disajikannya dengan penuh kepercayaan diri.

Kalimat pertama di atas tidak memiliki kesejajaran bentuk sehingga kalimat tersebut bukanlah kalimat yang efektif, sedangkan kalimat kedua memenuhi syarat kesejajaran sehingga dapat disebut kalimat efektif. d. Kevariasian Dalam menulis karangan- karangan perlu memperhatikan aspek kevariasian pemakaian kata dan struktur kalimat. e. Penekanan Penekanan kalimat biasanya diwujudkan dengan cara meletakkan bagianyang mendapat penekanan pada awal kalimat.

  1. Penggunaan Ejaan

a. Pemenggalan kata

  • Jika di tengah kata terdapat dua vokal berurutan maka pemenggalannya di antara kedua vokal tersebut. Contoh: maaf jika dipenggal menjadi ma-af. Saat jika penggal menjadi sa-at. Buah jika dipenggal menjadi bu-ah.

Namun huruf-huruf yang menandai diftong seperti au, ai, dan oi tidak boleh dipisah penulisannya. Contoh: sungai, harimau, dan amboi.

  • Jika ditengah kata terdapat vokal dan konsonan maka pemengalan kata dapat dilakukan sebelum konsonan. Contoh: Media jika dipenggal menjadi me-di-a. peraga jika dipenggal menjadi pe-ra-ga.
  • Jika ditengah kata terdapat dua konsonan, pemenggalan dilakukan di antara konsonan tersebut. Contoh: ahli jika dipenggal menjadi ah-li. Teknik jika dipenggal menjadi tek-nik.
  • Jika di tengah kata terdapat tiga konsonan atau lebih maka pemenggalan suku katanya di antara konsonan pertama dan kedua. Contoh: instrumen jika dipenggal menjadi in-stru-men. Konstruktif jika dipenggal menjadi kon-struk-tif.
  • Imbuhan berupa awalan dan akhiran diperlakukan sebagai satu suku kata bila dipenggal. Contoh: Makanan bila dipenggal menjadi ma-kan-an. Permainan bila dipenggal menjadi per-ma-in-an.

Namun apabila pembubuhan awalan menyebabkan asalisasi dan konsonan maka huruf yang terletak pada awal kata dasar akan luluh. Contoh: sayang menjadi menyayangi jika dipenggal menjadi me-nya-yang-i. pukul menjadi memukul jika dipenggal menjadi me-mu-kul. b. Penulisan kata depan Untuk membedakan kata depan di dengan imbuhan di-yaitu kata depan di selalu diikuti oleh kata atau frase benda saja. Contoh: di sekolah, di rumah, di ladang. Sedangkan imbuhan di- tidak demikian. Contoh: dimakan, dibuang, ditendang. c. Pemakaian tanda baca

  • Pemakaian tanda koma dalam penulisan gelar akademik

Tanda koma dipakai untuk memisahkan nama seseorang dengan gelar akademik yang ditulis di belakang nama tersebut. Contoh: Muhamad Yusuf, S.H. Oktatya Anggareni, M.A.

  • Pemakaiann tanda koma dalam penulisan kalimat majemuk

Beberapa petujuk pemakaian tanda koma sehubungan dengan penulisan kalimat majemuk, Apabila anak kalimat mendahului induk kalimat dalam sebuah kalimat majemuk bertingkat, tanda koma digunakan untuk memisahkan anak kalimat dengan induk kalimat. Contoh: – Karena nasib rakyat tidak diperhatikan, terjadilah krisis kepercayaan terhadap pemerintah. – Setiap musim kemarau tiba, kabut asap tebal menyelimuti kota jambi dan pekanbaru. Tanda koma juga dipakai untuk memisahhkan klausa-klausa pada kalimat majemuk setara. Contoh:    Ahmad bertugas menyusun rencana penelitian, Aisah mengumpulkan data, dan Ali menulis laporan.  Aminah membaca puisi, husein meniup seruling, dan Hasan berpantomim.

  • Pemakaian tanda titik dua

Tanda titik dua digunakan pada akhir peryataan lengkap yang diikuti dengan suatu perincian. Contoh: yang menentukan penyelengaraan pendidikan, antara lain adalah komponen-komponen berikut ini: kurikulum guru bahan pelajaran dan media pembelajaran. Tanda titik dua juga dipakai antara tempat terbit dan penerbit dalam penulisan daftar pustaka. Contoh: Akidah, Sabarti. 1992. Pembinaan Kemampuan Menulis Bahasa Indonesia. Jakarta: Penerbit Erlangga. Tanda titik dua dipakai pula di antara tahun terbit dan halaman pada penulisan sumber kutipan. Contoh: (Akidah, 1992:34)

  • Pemakaian tanda petik

– Tanda petik mengapit kalimat langsung atau petikan langsung dari percakapan atau suatu bahan tulisan. Contoh: “Kita harus tampil percaya diri,” kata kepala sekolah. – Tanda petik dipakai untuk mengapit judul puisi, artikel, bab dari suatu buku yang dipetik dalam kalimat. Contoh: Sajak “Aku” karangan Chairil Anwar syarat dengan pesan kebebasan individu. d. Menulis paragraf Paragraf  memiliki sebuah gagasan utama disebut topik utama atau pikiran utama yang disampaikan kepada pembaca melalui serangkaian kalimat. Sebuah paragraf dapat dimulai dengan pikiran-pikiran penjelas yang dituangkan dalam kalimat-kalimat penjelas, kemudian diakhiri dengan gagasan utama atau topik utama. Pengembangan paragraf dengan cara menyajikan serangkaian kalimat penjelas terlebih dulu dan diakhiri dengan kalimat utama disebut pengembangan paragraf secara induktif. Rangkaian kalimat penjelas yang berisi pikiran-pikiran penjelas dikemukakan setelah kalimat utama  pada awal paragraf dan sebelum kalimat utama yang menutup paragraf disebut pengembangan paragraf secara deduktif- induktif.

KEGIATAN BELAJAR 2 Kemampuan Lanjut Dalam Kegiatan Menulis  

A. Merencanakan Tulisan Fiksi

Tulisan fiksi adalah hasil tulisan kreatif dan imajinatif. Seandainya terdapat fakta yang disajikan dalam tulisan fiksi, itu hanya hasil imajinasi penulisnya. Proses penulisan fiksi yang dilakukan setiap pengarang berbeda-beda. Hal yang sama yang dilakukan oleh penulis fiksi adalah membuat catatan-catatan mengenai peristiwa-peristiwa dan kesan-kesan imajenatif yang muncul dalam kepalanya. Jadi penulisa sebuah fiksi dimulai dengan sebuah sinopsis cerita.

B. Merencanakan Tulisan Non fiksi

  1. Pemilihan Topik

Langkah pertama dalam sebuah karangan adalah memilih topik karangan.

  • Kriteria pemilihan  pertama, topik hendaknya menarik hati bagi penulis sendiri agar pekerjaan menulis tidak membosankan.
  • Kriteria pemilihan kedua topik hendaknya aktual, sedang hangat dibicarakan.
  • Kriteria pemilihan ketiga topik hendaknya tersedia atau dapat dijangkau artinya data atau informasi yang berhubungan dengan topik dapat diperoleh dalam batas waktu dan sumber dana yang tersedia.
  • Kriteria pemilihan keempat topik hendaknya sesuai cakupan ruang lingkupnya dengan waktu dan sumber dana yang tersedia.
  1. Perumusan Tujuan

Tujuan yang ingin dicapai dalam menulis yaitu berusaha mempengaruhi sikap pembaca atau  agar pembaca melakukan tindakan srsuai dengan topik.

  1. Penulisan Kerangka Karangan

Penulisan kerangka karangan sebagai pedoman agar tidak keluar dari topik dan tujuan penulisan yang sudah ditetapkan. Kerangka karangan merupakan panduan dalam penentuan struktur karangan serta dalam pengumpulan bahan karangan. Ada dua cara penulisan kerangka karangan:

  • Dengan mendaftarkan seluruh subtopik dari topik yang telah dipilih, kemudian memilah-milah, mengelompokan dan menyusunnya menjadi suatu struktur kerangka.
  • Langsung menentukan subtopik dan langsung mengurutkannya, kemudian setiap subtopiok diperinci lagi sesuai keperluan.

Setelah sebuah kerangka karangan terwujud perlu mengumpulkan bahan-bahan berupa teori, data, atau informasi lainnya. Setelah terkumpul langkah selanjutnya adalah mengembangkan kerangka karangan menjadi karangan utuh.    

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s